Sifat atau Watak adalah pembawaan manusia sejak lahir sedangkan kebiasaan adalah pengaruh perbuatan yang dilakukan manusia secara terus-menerus. Yang asalnya luar biasa, bisa menjadi biasa dan yang biasa bisa menjadi kebiasaan, itu semua akibat perbuatan, maka kebiasaan ini bisa dirubah dengan perbuatan pula. Caranya, bergaul dengan lingkungan yang baik yang berpotensi bisa merubah kebiasaan jelek tersebut.
Adapun sifat atau watak, maka itu tidak mungkin dapat dirubah, tetapi dihaluskan. Ada ungkapan : “batuk bisa diobati tetapi watak akan dibawa mati“. Dengan pelaksanaan ilmu dan iman yang diterapkan dalam pelaksanaan ibadah dan pengabdian hakiki, tentunya dengan bimbingan seorang guru ahlinya, maka sifat yang jelek bisa disepuh menjadi baik. Untuk tujuan itulah para Rasul dengan segala ajaran Agamanya diturunkan di muka bumi, jika ajaran tersebut dilaksanakan dengan baik, maka kejelekan manusia, baik sifat maupun kebiasaan akan dirubah menjadi baik.
Allah menyatakan hal tersebut dengan firmanNya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QSal-Furqon(25)70). Pelaksanaan Agama dalam hal ini disebut “mujahadah dan riyadhoh“, contohnya seperti orang melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Puasa sebagai ‘mujahadah’ atau bersungguh-sungguh untuk memerangi nafsu syahwat, sedangkan pelaksanaannya selama sebulan penuh merupakan ‘riyadhoh’ atau latihan hidup yang harus dijalani selama satu bulan penuh. Oleh karena itu, orang beriman yang berhasil melaksanakan puasa Ramadhan dengan baik mereka akan ‘Idul Fithri’ atau kembali kepada fithrahnya. Hal tersebut merupakan kesempatan yang diberikan Allah Ta’ala secara khusus hanya kepada manusia. Dengan pelaksanaan mujahadah dan riyadhoh itu manusia berpotensi menjadi lebih baik dan bahkan menjadi makhluk yang lebih mulia daripada malaikat, karena malaikat tidak mendapatkan kesempatan untuk melaksanakannya.
Ada pepatah “Batu Giok/Permata, jika tidak digosok tidak akan berguna“.
Untuk merubah watak seseorang apalagi watak keras menjadi lembut harusĀ dilakukan dengan penuh kesabaran. Kita harus sering-sering membimbing dan mendidik orang tersebut dengan tidak bosan-bosannya. Kita juga harus menjadi teladan/contoh yang baik pula dlm kehidupan sehari-hari. Membawanya ke lingkungan yang baik dan lingkungan yang dapat mendukung proses pendidikan moralnya.
Tetapi yang lebih penting : “Memperbaiki diri adalah alat yang ampuh untuk memperbaiki orang lain”.
Menurut temen – temen gimana ??
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
